Dr. Hj. Nilam Sari Lawira
"Pura babbara sompe’ku’, pura tangkisi’ golikku, ulebbirenni tellenngé nato’walié." - Pepatah leluhur Bugis Rasa gembira tiada tara ketika saya mendapatkan informasi bahwa seorang ibu bernama Yayasan Insan Cita Indonesia (YICI) yang berpusat di Palu dalam waktu dekat ini akan melahirkan anak yang sudah lama dinanti-nanti: Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia (PPICI). Saya sangat senang atas kehadiran pesantren ini di tengah-tengah masyarakat Sulawesi Tengah (selanjutnya: Sulteng). Ini merupakan sebuah anugerah yang sangat besar. Allah Swt. telah memberikan modal kesempatan untuk kita membangun bangsa ini secara lebih baik lagi, khususnya masyarakat Sulteng. Sebagai seorang perempuan yang dipercaya menahkodai YICI selama ini, saya berharap lahirnya PPICI tidak hanya berkomitmen untuk membangun generasi baru Muslim di Indonesia tetapi juga membangun generasi Muslimahnya. Selama ini YICI sebagai rahim embrio lahirnya PPICI telah melakukan banyak kegiatan sosial-keagamaan yang bahkan sering melibatkan kaum perempuan. Saya rasa jejak perjuangan YICI selama ini adalah contoh dan keteladanan bagi PPICI ke depan bagaimana membangun kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial keagamaan. Lahirnya PPICI merupakan bentuk ikhtiar YICI untuk mengisi ruang kosong yang belum pernah ia sentuh. Langkah perjuangan YICI selama ini belum pernah menyentuh sektor pendidikan berbasis pesantren. Oleh karena itu butuh langkah serius untuk menyentuh sektor tersebut. Dengan kata lain, pembentukan PPICI ini adalah untuk mengimplementasikan cita-cita yayasan (YICI) dalam pendidikan. YICI meyakini bahwa pendidikan, selain akan membawa perubahan sikap hidup perorangan, lembaga dan bangsa, juga akan memberikan ketersambungan amal dengan kehidupan sesudah mati. Semoga ikhtiar ini dicatat sebagai amal jariyah. Dari YICI ke PPICI YICI merupakan yayasan yang bergerak di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Pembangunan PPICI merupakan bagian dari penyelenggaraan tujuan dan maksud YICI di bidang keagamaan. Berdasarkan Anggaran Dasarnya (AD) sendiri, kegiatan dalam bidang keagamaan tersebut meliputi: 1) mendirikan sarana ibadah, 2) menyelenggarakan pondok pesantren dan madrasah, 3) menerima dan menyalurkan amal zakat, infak dan sedekah, 4) meningkatkan pemahaman keagamaan, 5) melaksanakan syiar keagamaan, dan 6) studi banding keagamaan. Dalam AD ini jelas penyelenggaraan pondok pesantren dan madrasah merupakan kegiatan yang telah dari awal sudah direncanakan. Dengan kata lain, penyelenggaraan pesantren ini awalnya masih merupakan suatu yang ideal. Adapun kegiatan keagamaan yang real sudah kami lakukan di antaranya adalah dzikir berjamaah rutinan, santunan anak yatim dan memberangkatkan umrah bagi masyarakat tidak mampu. Pada awal 2018, sebelum Covid-19 melanda dunia, YICI memberangkatkan tiga warga Sulteng untuk melakukan perjalanan umrah ke Mekkah dan Madinah. Kehendak hati YICI rasanya ingin berbagi umrah gratis ini setiap tahun, tapi apalah daya, tiga tahun sudah dunia dilanda musibah Pandemi. Semua harapan itu tak terwujud. Namun keadaan ini tidak membuat YICI patah semangat. Untuk berbuat suatu yang baik, YICI tak boleh menyerah pada keadaan. YICI ingin tampil sebagai yayasan yang memegang prinsip leluhur, “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”. Semangat ini yang membuat YICI terus berkomitmen membangun masyarakat Sulteng, dan bangsa Indonesia secara umum. Pada pertengahan akhir 2021 YICI mulai berpikir ke arah yang lebih serius. YICI pada akhirnya memutuskan akan membangun pesantren. Langkah ini tentu akan lebih berdampak besar ke depan. Membangun pesantren sejatinya bukan sekadar “berbagi sembako” atau “santunansantunan musiman”. Membangun pesantren adalah membangun generasi baru umat, meletakkan fondasi arkeologis bagi sejarah masa depan umat Muslim Indonesia. Semoga dengan lahirnya PPICI ini kelak YICI bisa menjadi bagian dalam sejarah bangsa sebagai salah satu lembaga yang pernah turut membina peradaban generasi umat. Semoga Allah meridhoinya. Ámín.
Baca Selengkapnya